Selasa, 05 Juni 2012

FENOMENA GEOSFER

Atmosfer

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari ketinggian 0km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena pembiasan sinarmatahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.

Atmosfer Bumi terdiri atas
nitrogen (78.17%) danoks igen (20.97%), dengan sedikit argon (0.9%),karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dangas lainnya. Atmosfer melindungi kehidupan dibumi dengan menyerapradias i sinarultraviolet dari matahari dan mengurangi suhu ekstrem diantara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan angkasa luar.

Troposfer


Lapisan ini berada pada level yang terendah, campuran gasnya paling ideal untuk menopang kehidupan di bumi. Dalam lapisan ini kehidupan terlindung dari sengatan radiasi yang dipancarkan oleh benda-benda langit lain. Dibandingkan dengan lapisan atmosfer yang lain, lapisan ini adalah yang paling tipis (kurang lebih 15 kilometer dari permukaan tanah). Dalam lapisan ini, hampir semua jenis cuaca, perubahan suhu yang mendadak, angin tekanan dan kelembaban yang kita rasakan sehari-hari berlangsung. Ketinggian yang paling rendah adalah bagian yang paling hangat dari troposfer, karena permukaan bumi menyerap radiasi panas dari matahari dan menyalurkan panasnya ke udara. Biasanya, jika ketinggian bertambah, suhu udara akan berkurang secara tunak (steady), dari sekitar 17℃ sampai -52℃. Pada permukaan bumi yang tertentu, seperti daerah pegunungan dan dataran tinggi dapat menyebabkan anomali terhadap gradien suhu tersebut.
Diantara stratosfer dan troposfer terdapat lapisan yang disebut lapisan Tropopouse.

Stratosfer


Perubahan secara bertahap dari troposfer ke stratosfer dimulai dari ketinggian sekitar 11 km. Suhu di lapisan stratosfer yang paling bawah relatif stabil dan sangat dingin yaitu - 70oF atau sekitar - 57oC. Pada lapisan ini angin yang sangat kencang terjadi dengan pola aliran yang tertentu.Disini juga tempat terbangnya pesawat.Aw an tinggi jeniscir r us kadang-kadang terjadi di lapisan paling bawah, namun tidak ada pola cuaca yang signifikan yang terjadi pada lapisan ini. Dari bagian tengah stratosfer keatas, pola suhunya berubah menjadi semakin bertambah semakin naik, karena bertambahnya lapisan dengan konsentrasiozon yang bertambah. Lapisan ozon ini menyerap radiasi sinar ultra ungu. Suhu pada lapisan ini bisa mencapai sekitar 18oC pada
ketinggian sekitar 40 km. Lapisans tr atopaus e memisahkan stratosfer dengan lapisan berikutnya

Mesosfer


Kurang lebih 25 mil atau 40km diatas permukaan bumi terdapat lapisan transisi menuju lapisan mesosfer. Pada lapisan ini, suhu kembali turun ketika ketinggian bertambah, sampai menjadi sekitar - 143oC di dekat bagian atas dari lapisan ini, yaitu kurang lebih 81 km diatas permukaan bumi. Suhu serendah ini memungkinkan terjadi awannoctilucent, yang terbentuk dari kristal es.

Termosfer


Transisi dari mesosfer ke termosfer dimulai pada ketinggian sekitar 81 km. Dinamai termosfer karena terjadi kenaikan temperatur yang cukup tinggi pada lapisan ini yaitu sekitar 1982oC. Perubahan ini terjadi karena serapan radiasi sinar ultra ungu. Radiasi ini menyebabkan reaksi kimia sehingga membentuk lapisan bermuatan listrik yang dikenal dengan namaionos fer, yang dapat memantulkan gelombang radio. Sebelum munculnya era satelit, lapisan ini berguna untuk membantu memancarkan gelombang radio jarak jauh. Fenomenaaurora yang dikenal juga dengan cahaya utara atau cahaya selatan terjadi disini.

Eksosfer


Adanya refleksi cahayamatahar i yang dipantulkan oleh partikel debu meteoritik. Cahaya matahari yang dipantulkan tersebut juga disebut sebagai cahaya Zodiakal

Atmosfir bumi
adalah lapisan udara yang mengelilingi atau menyelubungi bumi yang bersama-sama dengan bumi melakukan rotasi dan berevolusi mengelilingi matahari. Udara yang terkandung dalam atmosfir merupakan campuran dan kombinasi dari gas, debu dan uap air. Atmosfir berguna untuk melindungi makhluk hidup yang yang ada di muka bumi karena membantu menjaga stabilitas suhu udara siang dan malam, menyerap radiasi dan sinar ultraviolet yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk bumi lainnya.

Kandungan dalam lapisan atmosfir bumi

- Nitrogen 78,17%
- Oksigen 20,97%
- Argon 0,98%
- Karbon dioksida 0,04%
- Sisanya adalah zat lain seperti kripton, neon, xenon, helium, higrom dan ozon.

Lapisan-lapisan atmosfer bumi terdiri dari :

1. Troposfer / Troposfir
Ketinggian troposfer : 0 - 15 km
Suhu lapisan troposfir : 17 - -52 derajat celcius
Kurang lebih 80% gas atmosfer berada pada bagian ini

2. Stratosfer / Stratosfir

Ketinggian stratosfer : 15 - 40 km
Suhu lapisan stratosfer : -57 derajat celcius
Lapisan ozon yang memblokir atau menahan sinar ultraviolet berada pada lapisan ini.

3. Mesosfer / Mesosfir

Ketebalan Mesosfer : 45 - 75 km
Suhu lapisan stratosfer : -140 derajat celcius
Suhu yang sangat rendah dan dingin dapat menyebabkan awan noctilucent yang terdiri atas kristal-kristal es

4. Thermosfer / Thermosfir

Ketebalan thermosfer : 75 - 100 km
Suhu lapisan stratosfer : 80 derajat celcius

5. Ionosfer / Ionosfir

Ketebalan ionosfer : 50 - 100 km
Adalah lapisan yang bersifat memantulkan gelombang radio. Karena ada penyerapan radiasi dan sinar ultra violet maka menyebabkan timbul lapisan bermuatan listrik yang suhunya menjadi tinggi.

6. Eksosfer / Eksosfir

Ketebalan eksosfer : 500 - 700 km
Suhu lapisan stratosfer : -57 derajat celcius
Tidak memiliki tekanan udara yaitu sebesar 0 cmHg


fenomena geosfer

Hai kawan, kali ini saya akan berbagi pengetahuanku dengan kalian........
tentunya tentang "bio & geosfer",,,,

Sebagai permulaan, saya akan berbagi informasi tentang geosfer!  
Sebenarnya kalian tahu tidak apa fenomena geosfer itu???......

Geosfer
adalah fenomena / peristiwa yang terjdi dilingkungan permukaan bumi meliputi:

- Litosfer yaitu lingkungan kulit bumi atau kerak bumi

- Atmosfer yaitu lingkungan udara

- Hidrosfer yaitu lingkungan perairan

- Biosfer yaitu lingkungan makhluk hidup

- Antroposfer yaitu lingkungan manusia


litosfer

Secara harfiah litosfer adalah lapisan bumi yang paling luar atau biasa disebut dengan kulit bumi. Litosfer berasal dari bahasa yunani, "lithos" yang berarti berbatu, dan "sphere"yang berarti padat / lapisan.Pada lapisan ini pada umumnya terjadi dari senyawa kimia yang kaya akan Si02, itulah sebabnya lapisan litosfer sering dinamakan lapisan silikat dan memiliki ketebalan rata-rata 30 km yang terdiri atas dua bagian, yaitu Litosfer atas (merupakan daratan dengan kira-kira 35% atau 1/3 bagian) dan Litosfer bawah (merupakan lautan dengan kira-kira 65% atau 2/3 bagian).
Litosfer bumi meliputi kerak dan bagian teratas dari mantel bumi yang mengakibatkan kerasnya lapisan terluar dari planet bumi. Litosfer ditopang oleh astenosfer, yang merupakan bagian yang lebih lemah, lebih panas, dan lebih dalam dari mantel. Batas antara litosfer dan astenosfer dibedakan dalam hal responnya terhadap tegangan: litosfer tetap padat dalam jangka waktu geologis yang relatif lama dan berubah secara elastis karena retakan-retakan, sednagkan astenosfer berubah seperti cairan kental.
Litosfer terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik yang mengakibatkan terjadinya gerak benua akibat konveksi yang terjadi dalam astenosfer.
Konsep litosfer sebagai lapisan terkuat dari lapisan terluar bumi dikembangkan oleh Barrel pada tahun 1914, yang menulis serangkaian paper untuk mendukung konsep itu. konsep yang berdasarkan pada keberadaan anomali gravitasi yang signifikan di atas kerak benua, yang lalu ia memperkirakan keberadaan lapisan kuat (yang ia sebut litosfer) di atas lapisan lemah yang dapat mengalir secara konveksi (yang ia sebut astenosfer). Ide ini lalu dikembangkan oleh Daly pada tahun 1940, dan telah diterima secara luas oleh ahli geologi dan geofisika. Meski teori tentang litosfer dan astenosfer berkembang sebelum teori lempeng tektonik dikembangkan pada tahun 1960, konsep mengenai keberadaan lapisan kuat (litosfer) dan lapisan lemah (astenosfer) tetap menjadi bagian penting dari teori tersebut.

GURU GEOGRAFI PROFESIONAL

Guru Geografi Profesional
 
Fenomena dan isu-isu spasial-global, baik fisik-alamiah maupun sosial-budaya yang terjadi dipermukaan bumi sebagai ruang hidup serta kehidupan, merupakan sumber kajian yang menantang studi geografi. Fenomena dan isu-isu tersebut, wajib menjadi pengetahuan tiap orang, terutama peserta didik yang mempelajari geografi. Oleh karena itu, menjadi tantangan bagi guru geografi untuk mengantisipasinya menjadi bahan pembelajaran yang bermakna, agar masyarakat, khususnya peserta didik tidak menjadi korban masalah spasial-global yang sedanag melanda kehidupan dewasa ini, dan hari-hari mendatang. Hanya disini, bagaimanakah kemampuan profesional guru-guru geografi dilapangan mampu menjadikan fenomena spasial-global itu menjadi materi pembelajaran yang mengembangkan pola pikir peserta didik menghadapi masalah-masalah spasial-global yang tidak terpisahkan dari kehidupan

PENGANTAR

Fenomena apapun dalam ruang peermukaan bumi, baik itu fisikal-alamiah, maupun sosial-budaya, tidak dapat melepaskan diri dari perubahan. Bahkan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya teknologi informasi-komunikasi, perubahan itu sangat mengarus. Kita, terutama guru, lebih khusus lagi guru geografi, harus berupaya terhindar dari korban perubahan, namun berupaya mengendalikan perubahan itu (Masters of Change:Boast, W.M., Martin, B.:2001). Salah satu perubahan yang dialami oleh guru di lapangan, tidak terkecuali guru geografi, yaitu perubahan kurikulum di tingkat sekolah yang tidak jarang “membingungkan”. Perubahan kurikulum ini memang “tuntutannya”, mengantisipasi perubahan yang sedang mengarus dalam kehidupan, terutama perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek-aspek sosial-budaya, ekonomi, dan politik. Namun demikian, dilancarkan perubahan kurikulum tersebut, tidak dilandasi oleh kesiapan/persiapan guru sebagai ujung tombak dilapangan.
Idealnya, guru, khususnya guru geografi sebagai orang lapangan, dengan kemampuan dan kematangan profesional, mampu mengantisipasi perubahan-perubahan tadi. Namun dalam kenyataan, lebih banyak kebingungan dari pada siap mengantisipasinya. Kadar profesional guru, khususnya guru geografi, masih hartus ditingkatkan. Salah satu prinsip profesional guru menurut Undang-undang RI No. 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen (Bab III, Pasal 7): “memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat”.

FENOMENA DAN ISU-ISU SPASIAL-GLOBAL
Kehidupan manusia saat ini, dihadapkan pada kenyataan perubahan yang mengarus sebagai dinamika fisikal-alamiah, dan terutama perkembangan sosial-budaya. Pertumbuhan penduduk dunia, termasuk pertumbuhan penduduk Idonesia yang terus meningkat, menjadi faktor pendorong pertumbuhan kebutuhan (needs), baik kuantitas maupun kualitas yang juga meningkat. Kemajuan dan pemanfaatan IPTEK dalam mengolah sumberdaya lingkungan (alam, sosial, budaya), sudah merupakan tuntutan yang tidak mungkin dicegah. IPTEK yang dilematik antara kadar positif (rahmat) dan negatif (laknat), harus menjadi kepedulian bersama untuk mengelolanya. Penerapan dan pemanfaatan IPTEK yang tidak terkendali, yang mengabaikan asas-asas ekologi dan kelestarian, telah membawa dampak negatif terhadap keseimbangan dan kelestarian lingkungan sebagai sumberdaya.
Fenomena dan masalah-masalah spasial-global yang sedang melanda kehidupan dewasa ini, meliputi ;
- produktivitas pangan yang menurun, dan bahaya kelapan sebagai akibat gagal panen karena cuaca serta musim yang tidak menentu;
- erosi, banjir, tanah longsor dan kekeringan akibat rusaknya kawasan penampung hujan (catchment area), daerah resapan, dan areal hutan lindung, sebagai akibat pembalakan liar (illegal loging) yang tidak terkendali, serta pembangunan fisik (pemukiman, gedung-gedung, jalan) yang tidak memperhatikan drainase dan daerah resapan;
- pencemaran lingkungan (udara, air, tanah, suara) yang diakibatkan oleh pembangunan ekonomi (industri, pertambangan) yang tidak menerapkan AMDAL sebagaimana seharusnya.
- Pemanasan global (global warming), sebagai akibat terjadinya “efek rumah kaca” (green house effects) dari pencemaran udara yang makin meningkat (industri/pabrik, kendaraan bermotor), serta diperkuat oleh rusaknya kawasan hijau(pertamanan, hutan, jalur hijau) yang berfungsi menyerap gas-gas buangan.
- Fenomena gempa bumi, tsunami, gelombang pasang, letusan gunung api yang tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia (dalam penerapan, dan menggunakan IPTEK) yang mengabaikan perilaku serta dinamika fenomena alam (percobaan ledakan nuklir liar, penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan).
- Pengangguran dan kemiskinan yang meluas, sebagai akibat kesenjangan antara pertumbuhan penduduk, terutama pertumbuhan angkatan kerja dengan peluang, lapangan serta kesempatan kerja yang terbatas, dan diperkuat oleh ketidakseimbangan sumber-sumber kesejahteraan dampak dari kemiskinan struktural.
Fenomena dan masalah spasial-global tadi, menjadi tantangan bagi guru geografi dan bidang studi geografi, untuk dijadikan materi pembelajaran bagi peserta didik serta juga masyarakat, dalam membina kesadaran dan keterampilan antisipatif terhadap masalah-masalah diatas, sehingga tidak menjadi korban, bahkan dapat mengatasinya.
Guru, khususnya guru geografi dilapangan, masih belum mampu mengembangkan kadar profesional menjabarkan fenomena dan masalah-masalah spasial-global ke dalam materi pembelajaran geografi yang aktual, masih terikat oleh buku teks yang ada. Hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari beban pokok dalam melepaskan diri dari kehidupan yang menghimpit, akibat tidak seimbangnya penghasilan dengan biaya hidup yang dalam kenyataanya masih berat. Untuk mengembangkan kemampuan profesional sebagai “guru profesional” menurut prinsip profesional (undang-undang no 14/2005): “memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja”. Jika penghasilan yang dirumuskan oleh undang-undang itu telah jelas pada kenyataan, menjadi pendorong bagi guru, khususnya guru geografi untuk meningkatkan prestasi sebagai ciri profesionalisme, sehingga beban hidup yang menghimpit tidak lagi merupakan maslah, bahkan menjadi pendorong realisasi kinerja profesional. Sepanjang kebutuhan hidup pokok belum terpenuhi secara wajar sesuai dengan martabat kemanusiaan, sepanjang itu pula kualitas kerja profesional, sukar terlaksana.
Dalam perkembangan arus kehidupan yang makin mengarah pada sifat materialistik yang dapat dikatakan makin jauh dari nilai-nilai moral, kedudukan guru, termasuk guru geografi sebagai pendidik yang menjadi “ujung tombak” pembinaan sumberdaya manusia yang berkualitas sesuai dengan tuntutan jaman, hanyalah sebatas “wacana”. Sementara itu, bidang-bidang politik yang tidak langsung berhubungan dengan peningkatan pembinaan sumberdaya manusia generasi mendatang, memperoleh imbalan yang tinggi bila dibandingkan dengan penghasilan guru yang langsung berhubungan dengan proses “penciptaan” generasi yang idealnya berkemampuan kompetitif di ditengah-tengah arus kemajuan dan persaingan.

PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Secara reguler, paling tidak, kurukulum di tingkat sekolah dikembangkan (pengembangan kurikulum, curriculum development) tiap lima tahun. Hal tersebut, berkedudukan penting untuk menyesuaikan materi pendidikan dan pembelajaran dengan kemajuan serta tuntutan perubahan kehidupan dengan segala aspeknya. Apabila tidak ada pengembangan kurikulum (oleh orang lapangan/guru, lebih dirasakan sebagai perubahan kurikulum), pendidikan dan pembelajaran disekolah akan keringgalan jaman.
Namun demikian, bagaimanapun baik dan indahnya kurikulum hasil pengembangan sesuai dengan tujuannya, belum tentu berhasil mencapai sasaran serta tujuan, apabila guru sebagai orang lapangan, tidak dipersiapkan dan memiliki kesiapan untuk mengimplementasikannya. Oleh karena itu, pengembangan atau pembaruan atau perubahan itu, harus didahului oleh pengembangan kemampuan guru sebelum kurikulum itu dilaksanakan di lapangan sebagai prasyaratnya. Pengembangan atau pembaruan atau perubahan itu, terutama jika terjadi “bertubi-tubi” dalam jangka waktu yang singkat, kurang dari lima tahun, menyebabkan terjadi “kebingungan” dalam diri guru sebagai pelaksana di lapangan. Apabila guru mengalami kebingungan, bagaimanakah implementasi di lapangan, jadinya.
Keberhasilan guru, termasuk guru geografi di lapngan, melaksnanakan tugas sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran, tercermin pada kemampuannya menjabarkan, memperkaya, memperluas, dan “menciptakan” kesesuaian serta keserasian kurikulum dengan realita fenomena dan isu-isu spasial-global, perkembangan IPTEK, serta perubahan sosial pada umumnya. Melalui mekanisme yang demikian itu, proses pendidikan dan pembelajaran, dapat memenuhi kebutuhan peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, membina manusia indonesia yang terampil, berpengetahuan, berilmu, berakhlak mulia sebagai calon sumberdaya manusia Indonesia yang modern. Oleh karena itu, sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang RI, No. 14 Tahun 2005, Bab I, Pasal 1. “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah”.
Kadar profesional guru itu, termasuk guru geografi, tidak akan lahir begitu saja, melaikan melalui proses pembinaan yang bertahap dan berkesinambungan. Secara formal, tingkat profesional tersebut, diproses pada lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di perguruan tinggi. Secara non formal, melalui kegiatan pelatihan, seminar, lokakarya, sarasehan, diskusi, dan sebangsanya. Secara individual guru masing-masing melakukan pengembangan pribadi (personal development) seperti yang dikemukakan oleh Jansen Sinamo dalam buku : 8 ETOS KERJA PROFESIONAL (2005), yang antara lain “Bergurau pada dongeng, berguru pada Kitab Suci, bergurau pada biografi, dan berguru pada buku-buku mencapai sukses”. Dengan demikian, membina profesional itu, tidak hanya terbatas pada pendidikan formal dan non formal, melainkan terutama juga sangat bergantung pada dorongan diri pribadi untuk mencapainya. Dalam buku The Seven Habits of Higly Effective People, Stephen R. Covey (1994), antara lain “mengemukakan kebiasaan-kebiasaan proaktif, sinergi, dan asah gergaji”.
“Iqra” – bacalah, perintah Tuhan ini hanya ditujukan kepada manusia, makhluk hidup yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk hidup lain, non manusia. “Membaca” dalam konsep ini, memiliki konotasi yang luas, bukan hanya membaca “teks” hitam diatas putih saja, melainkan membaca dalam arti yang seluas-luasnya, meliputi membaca fenomena alam, air muka – perangai orang, tanda-tanda jaman, dan kecenderungan-kecenderungan yang mungkin terjadi di hari-hari mendatang. Guru geografi yang profesional, harus memiliki kemampuan “Iqra” ini, dalam membaca fenomena dan isu-isu spasial-global yang menjadi objek studi geografi. Perintah “Iqra” ini hanya ditujukan kepada manusia sebagai “makhluk pembaca”. Membaca, memiliki makna yang luas dalam menimba pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Dari kemampuan membaca ini, dapat mengembangkan kemampuan lain, yaitu menulis, baik artikel-artikel pendek, mapun buku-buku. Konsep Jansen Sinamo “berguru pada kitab suci, Biagrafi dan Buku-buku Mencapai Sukses, hakikatnya adalah membaca”.
Makna lain yang ada dalam diri manusia, termasuk dalam diri guru geografi, yaitu “manusia sebagai makhluk pembelajar” (Andrias Hafera:2000). Belajar bagi manusia, termasuk bagi guru geografi, merupakan proses sepanjang hayat, mulai dari saat lahir, sampai meninggal. Kemampuan membaca dan belajar pada diri manusia menghasilkan budaya/kebudayaan (Koentjaraningrat :1990:180). Kemampuan mengajar, sesungguhnya lahir dari kemampuan belajar yang bermakna (meaningfull learning) sesuai dengan ilmu pokok dan bidang tugas yang menjadi tanggung jawab. Guru profesional, khususnya guru geografi yang profesional, harus memiliki dan mengembangkan kemampuan belajar, supaya memiliki kemampuan mengajar secara profesional. Idealnya, membaca (iqra) dan belajar harus menjadi kebiasaan (habit), sehingga pengetahuan, khususnya pengetahuan geografi selalu aktual serta riil.
Bagi guru, termasuk guru geografi, kebiasaan proaktif (jemput bola), tidak menunggu datang/adanya buku paket/buku teks, melainkan secara aktif mencari sumber-sumber yang aktual (pustaka, grafika, elektronika, nara sumber) yang sesuai dengan pengetahuan pokok dan tugas pendidikan serta pembelajaran geografi yang memperkokoh kemampuan profesional. Kebiasaan bekerja sendiri sebagai guru profesional, merupakan hal yang sangat bermakna atas keyakinan dan harga diri. Namun demikian, bagaimanapun kita memiliki kelemahan yang “barangkali” dapat teratasi dengan kerjasama dengan pihak lain. Oleh karena itu, kebiasaan bersinergi, bukan hanya sebagai karakter makhluk sosial saja, melainkan juga untuk mengatasi kelemahan pribadi, bahkan juga untuk membantu pihak lain yang ada dalam keterbatasan. Karakter profesional, bukan hanya dicirikan oleh kekuatan atas kemampuan pribadi, juga harus tercermin dari kemampuan bekerjasama.
Kebiasaan asah gergaji seperti dikonsepkan oleh Stephen R. Covey (1984), dikaji dari kadar profesional guru, khususnya guru geografi, memiliki makna yang strategis. Guru geografi profesional, harus tetap menjaga aktualisasi diri, tetap segar (ever green) akan pengetahuan, ilmu, dan informasi baru sesuai dengan perkembangan fenomena serta isu-isu spasial global baru. Dengan demikian pola pikir (mindset) selalu sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Kebiasaan asah gergaji ini, mekanisme dan prosesnya, melalui membaca pustaka-pustaka yang baru, kegiatan ilmiah (penelitian, seminar, diskusi, sarasehan) serta mengikuti informasi-informasi aktual melalui multi-media (grafika, elektronik, film), baik langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian, mindset kita selaku guru geografi, tetap segar, tidak menjadi kuno.
Pengembangan kadar profesional guru, khususnya guru geografi secara formal, dilakukan melalui pendidikan formal, baik pendidikan akademik maupun pendidikan profesional (pendidikan kedinasan) atau bahkan kedua-duanya. Dengan demikian, secara akademik dan formal, dalam diri kita selaku guru, khususnya guru geografi. Berkaitan dengan undang-undang, tingkat profesional ini secara formal harus ada sertifikatnya. Oleh karena itu, harus ada pengujian formal, sehingga mendapat pengakuan.
Pengembangan dan pembinaan kadar profesional, seperti telah dibahas di atas, secara informal dilakukan sendiri oleh guru yang bersangkutan melalui pengembangan diri (personal development) dengan membaca, belajar mandiri, melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai serta bermakna terhadap tuntutan tugas guru geografi. Secara non formal, dilakukann melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti sarasehan, diskusi, seminar, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan yang mendukung peningkatan kemampuan profesional. Dengan kegiatan-kegiatan yang terarah, baik informal maupun nonformal, kemampuan profesional itu sebagai guru geografi, pada kadar nonformal, dapat vterbina. Namun demikian, menurut undang-undang, konsep profesional itu dirumuskan (Undang-undang RI, No. 14 Tahun 2005, Bab I, Pasal 1, ayat 4) sebagai berikut :
“Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi”.
Di sini jelas, bahwa profesional secara formal, tidak hanya berdasarkan kegiatan informal dan nonformal semata, melainkan harus dapat diukur secara formal berdasarkan hasil pendidikan profesi, yang mau tidak mau melalui pendidikan formal akademik, terutama pendidikan profesi melalui kedinasan atau lembaga pemerintahan (Dinas, Departemen). Profesional itu, dibuktikan oleh sertifikat pendidikan sebagai pengakuan kepada guru selaku tenaga profesional. Pembeerian sertifikat ini melalui proses “sertifikasi” yang dilakukan oleh Dinas atau Departemen Pendidikan Nasional.
Dari uraian singkat diatas, berikut ini akan disampaikan beberapa butir pernyataan sebagai kesimpulan.

KESIMPULAN

1. Fenomena dan isu-isu spasial-global sebagai akibat proses dinamika geosfer, merupakan tantangan bagi guru geografi untuk dijabarkan menjadi materi pembelajaran yang bermakna untuk peserta didik.
2. Penjabaran fenomena dan isu-isu spasial-global yang dialami saat ini, menuntut kemampuan profesional guru geografi untuk menjabarkan ke dalam materi pembelajaran yang membekali peserta didik.
3. Pengembangan kurikulum yang kenyataannya di lapangan sebagai perubahan kurikulum, merupakan suatu tuntutan antisipatif terhadap perkembangan dan perubahan dinamika geosfer, baik fenomena fisikal-alamiah maupun sosial-budaya.
4. Pengembangan ataupun perubahan kurikulum, menuntut kemampuan profesional guru geografi utnuk menjabarkannya ke dalam materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik sebagai subjek pelaku pada kehidupannya.
5. Pada kenyataan saat ini, karena berbagai hal yang menghimpit kehidupan guru, khususnya kehidupan guru geografi, tuntutan profesional di atas, baru merupakan tantangan yang belum mampu diantisipasi oleh kemampuan yang masih harus dikembangkan.
6. Pengembangan profesional guru, termasuk guru geografi, secara nonformal, dapat dilakukan sendiri oleh guru geografi melalui kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi (personal development) seperti membaca dalam arti yang seluas-luasnya, belajar, baik secara individual, maupun secara nonformal yang meliputi diskusi, sarasehan, seminar, lokakarya serta pelatihan-pelatihan.
7. Pengembangan kebiasaan-kebiasaan yang bermakna yang meliputi proaktif, sinergi, dan asah gergaji, juga merupakan kesempatan yang sangat fungsional serta strategis membangun kemampuan profesional.
8. Berdasarkan Undang-undang Guru dan Dosen, kemampuan profesional itu harus secara formal melalui pendidikan profesi dibawah tanggungjawab Pemerintah, Dinas serta Departemen. Profesional ini harus dibuktikan oleh sertifikat melalui proses sertifikasi.
Demikianlah lontaran singkat ini disampaikan pada kesempatan yang sangat berharga sekarang. Dengan harapan ada manfaatnya bagi kita bersama, terutama bagi pendidikan geografi yang sedang ditantang oleh berbagai perkembangan dan perubahan yang sedang mengarus.

PUSTAKA RUJUKAN
Andrias Hafera (2000), Menjadi Manusia Pembelajar, Jakarta, PT. Kompas Media Nusantara.
Boast, W.M., Martin, B. (2001), Masters of Change, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.
Covey, S.R. (1994), The Seven Habits of Higly Effective People, Jakarta, PT. Gramedia Asri Media.
Dweck, C.S. (2007), Change Your Mindset, Change Your Life, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta.
Hall. D. (1976), Geography and Geography Teacher, London, George Allen & Unwin Ltd.
Jansen Sinamo (2005), 8 Etos Kerja Profesional, Jakarta, Institut Darma Mahardika.
Merryfield, M.M., Jarchow, E., Pickert, S., editor (1997), Preparing Teachers to Teach Global Perspectives, California, Corwin Press, Inc.
Nursid Sumaatmadja (2002), Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, Bandung, Penerbit Alfabeta.
Syafrudin Nurdin (2005), Guru Profesional & Implementasi Kurikulum, Jakrta, Penerbit Quantum Teaching.
Sztompka, P. (2004), Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta, Prenada Media.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Williams, M., editor (1976), Geography and The Integrated Curriculum, London, Heinemann Educational Books.

Rabu, 09 Mei 2012

MORFOLOGI KARST


Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan , dan gua. Bentang alam atau morfologi karst terbentuk akibat proses karstifikasi dan proses pelarutan kimia yang diakibatkan oleh aliran permukaan. Karst yang baik harus mengandung potensi mineral kalsit sekitar70-90% hal ini dimaksudkan dengan kegiatan pelarutan yang ada. Suatu kawasan karst mempunyai karakteristik yang khas, baik wilayah permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst).
Karst hanya dijumpai di tempat-tempat tertentu. Pada awalnya pengertian karst merujuk pada nama bentang alam “karst” ditimur kota Trieste, Slovenia. Karena kekhasannya istilah karst kemudian dipakai untuk menyebut semua kawasan batu gamping yang telah mengalami suatu proses kelarutan. Karst merupakan suatu wilayah batu gamping yang ditandai oleh adanya cekungan,  lereng terjal, tonjolan bukit berbatu gamping tak beraturan, gua, mempunyai system aliran air bawah tanah.
     1.      Ciri-Ciri Karst

Penciri karst sangat beraneka ragam secara garis besar dilihat dari mayor dan minornya:

1.      Untuk minor bisa berupa lapis, karst split, parit karst, palung karst, speleothem dan fitokasrt.
2.      Untuk mayor bisa berupa surupan, uvale, polje, jendela karst, palung karst, gua, terowongan alam.

      2.      Proses Pembentukan Karst

Proses pembentukan karst melibatkan apa yang disebut sebagai “Karbon dioksida kebawah”. Hujan turun melalui atmosfer dengan membawa karbon dioksida terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai ditanah, ia terperkolasi melalui tanah dan menggunakan lebih banyak karbon dioksida. Infiltrasi air secara terus - menerus secara alami membentuk retakan - retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang lama, dengan suplai karbon dioksida terus - menerus yang kaya air, lapisan karbonat mulai melarut.

         3.            Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan :

A.    Kerucut Karst

Bukit Kars yang berbentuk kerucut dan berlereng terjal dan dikelilingi oleh depresi/bintang (Bloom, 1979).
 
B.  Menara Karst

Bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yang lain dan dikelilingi oleh dataran alluvial.

C.  Mogote

Bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi oleh dataran alluvial yang hampir rata (Flat).

D.  Vaucluse

Gejala karst yang berbentuk lubang tempat keluarnya aliran air tanah.

E.  Turm Karst

Lingkungan karst yang berupa bukit-bukit kars (Kerucut kars) yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

   4.            Potensi Kawasan Karst

1.      Potensi Ekonomi

Semakin meroketnya jumlah penduduk tak ayal lagi membuat manusia berusaha untuk bertahan hidup. Gua yang umumnya di jumpai dikawasan karst sudah lama dijadikan manusia sebagai hunian. Selain sebagai hunian, kawasan karst juga tempat untuk pertanian/peternakan, perkebunan, kehutanan, penambangan batu gamping, penambangan guano (kotoran kelelawar), penyediaan air bersih, air irigasi dan perikanan, serta kepariwisataan.
Salah satu pemanfaatan yang merugikan adalah penambangan batu gamping. Dengan menggunakan bahan peledak akan menganggu hewan didalamnya (kelelawar, burung walet). Pemanfaatan yang baik untuk kelestarian kawasan karst adalah pariwisata yang selalu berusaha untuk mempertahankan keaslian dan keunikan kawasan karst tersebut.

2.      Potensi Sosial

Nilai sosial-budaya kawasan karst selain menjadi tempat tinggal juga mempunyai nilai spiritual/religius, estitika, rekreasional dan pendidikan. Banyak tempat di kawasan karst yang digunakan untuk kegiatan spiritual/religius. Banyak aspek hubungan antara manusia dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat spiritual khususnya dengan keyakinan masyarakat dengan fenomena alam di sekitarnya seperti halnya gua. Hubungan antara manusia dan alam disekitarnya pada dasarnya akan memberikan pelajaran kepada manusia bagaimana melestarikan alam dan dekat dengan Sang Penciptanya.

3.      Berikut adalah wilayah karst di Indonesia :

1.      Gunung Leuser (Aceh)
2.      Perbukitan Bohorok (Sumut)
3.      Payakumbuh (Sumbar)
4.      Bukit Barisan, mencakup Baturaja (Kabupaten Ogan Kombering Ulu)
5.      Sukabumi selatan (Jabar)
6.      Gombong, Kebumen (Jawa Tengah)
7.      Pegunungan Kapur Utara, mencakup daerah Kudus, Pati, Grobogan, Blora dan Rembang Jawa Tengah)
8.      Pegunungan Kendeng, Jawa Timur
9.      Pegunungan Sewu, yang membentang dari Kabupaten Bantul di barat hingga Kabupaten Tulungagung di timur.
10.  Sistem perbukitan Blambangan, Jawa Timur
11.  Perbukitan di bagian barat Pulau Flores, tempat lokasi banyak gua, salah satu di antaranya adalah Liang Bua (Nusa Temggara Timur, NTT)
12.  Perbukitan karst Sumba (NTT)

    4.      Bentuk Lahan Karst
Bentuk lahan yang terjadi pada daerah karst dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu bentuk lahan negative dan bentuklahan positif. 
1.      Bentuk lahan Negatif
Bentuk lahan negative dimaksudkan bentuk lahan yang berada dibawah rata-rata permukaan setempat sebagai akibat proses pelarutan, runtuhan maupun terban. Bentuk lahan - bentuk lahan tersebut antara lain terdiri atas doline, uvala, polye, cockpit, blind valley.
A.  Doline
Doline merupakan bentuk lahan yang paling banyak dijumpai di kawasan karst. Bahkan di daerah beriklim sedang, karstifikasi selalu diawali dengan terbentuknya doline tunggal akibat dari proses pelarutan yang terkonsentrasi. Tempat konsentrasi pelarutan merupakan tempat konsentrasi kekar, tempat konsentrasi mineral yang paling mudah larut, perpotongan kekar, dan bidang perlapisan batuan miring. Doline-doline tungal akan berkembang lebih luas dan akhirnya dapat saling menyatu. Secara singkat dapat dikatakan bahwa karstifikasi (khususnya di daerah iklim sedang) merupakan proses pembentukan doline dan goa-goa bawah tanah, sedangkan bukit-bukit karst merupakan bentukan sisa/residual dari perkembangan doline.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain, sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole, ataupun canote. Doline itu sendiri telah diartikan oleh Monroe (1970) sebagai suatu ledokan atau lobang yang berbentuk corong pada batu gamping dengan diameter dari beberapa meter hingga 1 km dan kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter. Karena bentuknya cekung, doline sering terisi oleh air hujan, sehingga menjadi suatu genangan yang disebut danau doline.
Berdasarkan genesisnya, doline dapat dibedakan menjadi 4 yaitu, doline solusi, doline terban, dan doline alluvial dan doline reruntuhan. (Faniran dan Jeje, 1983)
1.      Doline reruntuhan
Doline reruntuhan ini terjadi sebagai akibat dari proses pelarutan yang ada di bawah permukaan yang menghasilkan rongga bawah tanah. Rongga bawah tanah tersebut atapnya runtuh, hingga mengasilkan cekungan atau depresi dipermukaan. Doline seprti ini mempunyai lereng yang cukup curam-curam terdiri dari lapisan batuan yang keras dan menurun secara tiba-tiba.
2.      Doline Solusi
Doline solusi terjadi karena telah berlangsungnya proses solusi/pelarutan tanpa mendapat gangguan lain terhadap batuan. Doline seperti ini terjadi secara perlahan-lahan akibat larutnya batuangamping ke dalam tanah oleh air yang meresap melalui joint atau rekahan-rekahan pada daerah batugamping.
3.      Doline Terban
4.      Doline Alluvial
Doline aluvial ini terjadi sebagai akibat karena pelarutan oleh air yang mengalir yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Adanya proses tersebut terbentuk doline aluvial.
             B. Uvala
Uvala adalah cekungan tertutup yang luas yang terbentuk oleh gabungan dari beberapa danau doline. Uvala memiliki dasar yang tak teratur yang mencerminkan ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje (Whittow, 1984)
            C. Polje
Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan memanjang yang terbentuk akibat runtuhnya dari beberapa goa, dan biasanya dasarnya tertutup oleh alluvium.
            D. Blind Valley
Blind Valley adalah satu lembah yang mendadak berakhir/ buntu dan sungai yang terdapat pada lembah tersebut menjadi lenyap dibawah tanah.
                   2.       Bentuklahan Positif
     Pada prinsipnya ada 2 macam bentuklahan karst yang positif yaitu kygelkarst dan   turmkarst
A. Kygelkarst
Kygelkarst merupakan satu bentuklahan karst tropic yang didirikan oleh sejumlah bukit berbentuk kerucut, yang kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit. Cockpit - cockpit inisialing berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis yang mengikuti pola kekar.
B. Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah yang berpadanan dengan menara karst, mogotewill, pepinohill atau pinnacle karst. Turmkarst merupakan bentukan  positif yang merupakan sisa proses solusional. Menara karst/ tumkarst terdiri atas perbukitan belerang curam atau vertical yang menjulang tersendiri diantara dataran alluvial.
C. Stalaktit Dan Stalakmit
Stalaktit adalah bentukan meruncing yang menghadap kebawah dan menempel pada langit-langit goa yang terbentuk akibat akumulasi batuan karbonat yang larut akibat adanya banjir. Stalakmit hamper mirip dengan stalaktit namun berada di bawah lantai dan menghadap keatas.
Kawasan karst peka terhadap erosi, terutama apabila derajat kemiringan tebing-tebingnya besar, seperti pada conical atau towerkarst. Erosi tidak selalu berupa erosi permukaan, dimana tanah terhanyut oleh sungai-sungai permukaan di musim hujan ke daerah-daerah yang letaknya lebih rendah atau cekungan-cekungan, tetapi di kawasan karst, yangpenting ialah erosi melalui rekahan-rekahan yang dijumpai pada hampir seluruh lapisan batu gamping. Melalui rekahan-rekahan atau celah-celah ini, tanah akan dihanyutkan oleh air hujan dan sungai permukaan yang biasanya hanya mengalir sewaktu hujan, ke dalam rongga-rongga di bawah tanah. Jumlah rekahan, arahan dan luasnya tergantung pada berbagai faktor, seperti litologi, gerakan tektonis, porositas intragranuler batu gamping dan tebalnya humus yang menutupi tanah kawasan karst.
Jenis tanaman karst di daerah-daerah yang belum dijamah manusia memang ada yang endemis, dan hanya tumbuh pada kawasan karst tersebut karena mempunyai afinitas terhadap susunan batu gamping di tempat itu. Erat hubungannya dengan endemisme vegetasi tersebut, kiranya dapat dihubungkan adanya beberapa jenis fauna yang endemis untuk suatu daerah karst.
 Misalanya, keong-keong tertentu bahkan ada satu jenis keong yang hanya didapati di satu bukit batu gamping tertentu di Malaysia.
Penyebaran jenis tanaman di suatu kawasan karst dapat terjadi melalui burung (aviafauna : biji-bijian, spora) atau melalui hembusan angin (spora) dan arus air permukaan (biji-bijian, spora, kecambah, anakan,dsbnya). Kegiatan manusia mulai dari penggundulan hutan atau agrikultur juga akan merubah tata tanaman di suatu lingkungan karst. Penanaman kembali beberapa jenis flora juga akan merubah pola tumbuh-tumbuhan di kawasan karst, sehingga silvikultur akan berubah sebagian atau total. Hidrologi yang khas untuk setiap kawasan karst yang dapat berbeda dari suatu kawasan karst dengan yang lain, ketinggian di atas permukaan laut yang berbeda pula, iklim (curah hujan) yang berlainan, susunan tanah yang bervariasi (derajat keasaman, kandungan mineral, kimiawi tanah, mikrofauna tanah) juga akan mempengaruhi sukses tidaknya, lama atau sebentarnya beberapa jenis tumbuhan dapat berkembang.
Apabila kondisi menguntungkan, maka jenis-jenis tanaman tertentu akan tumbuh dengan baik sejak semula. Tetapi bila kondisi kurang menguntungkan, maka mula-mula akan terlihat betapa sulitnya sejenis tumbuhan yang diintroduksi itu hidup, bahkan mungkin akan mati semuanya.
Ada beberapa semak yang sangat karakteristik untuk batu gamping, karena mempunyai afinitas terhadap bahan tersebut. Disebut dengan istilah tanaman calcicolous. Misalnya boea, chirita, monophyllaea, paraboea (gesneriaceae). Puncak perbukitan batu gamping hutan basah tropika di Sarawak dengan jenis tanah yang kurang sekali kesuburannya, bersifat asam (pH=4,5) menumbuhkan tanaman sistem karangas, seperti nephentes, vaccinium, rhododendron. Pada pinnacle karst di Papua New Guinea tumbh jenis pohon casuarina papuana, agathis labillardieri, hal mana juga ditemukan pada perbukitan waigeo di Irian Jaya, pada tanah gambut masam.
Di Tanam Nasional Gunung Mulu di Sarawak, terlihat tumbuh di kawasan batu gamping, conifer dacrydium becorii, phyllocladus hypophyllus dan myrica esculenta.  Di samping itu juga tumbuh beberapa jenis tanaman yang menyukai lokasi terjal atau tergantung (overhang) seperti pada bukit-bukit dan lereng-lereng terjal batu gamping.
Jenis tanaman ini digolongkan dalam kelompok cremnophytes, antara lain termasuk alam golongan ini adalah pohon beringin dan berbagai jenis paku-pakuan. Sebelum melakukan penghijauan suatu kawasan karst, hendaknya dibahas dulu secara seksama secara multidisipliner, lintas sektoral, apa tujuan dari penghijauan itu. Apakah untuk memperbaiki oro-hidrologi, memperbaiki keadaan sosioekonomi rakyat setempat, untuk hutan produktif, untuk tujuan wisata alam, untuk konservasi tanah (mencegah erosi), untuk penunjang bagi usaha peternakan, pembakaran batu gamping menjadi kapur, ataukah untuk tujuan ilmiah (silvikultur, plasma nutfah, flora-fauna karst, dll). Erat dengan tujuan itu setiap tindakan hendaknya dilaksanakan secara konsekuen dan terintegrasi secara konsisten. Mula-mula harus ditentukan jenis tanaman mana yang potensial untuk digunakan (sesuai dengan ketinggian lokasi di atas permukaan laut, jenis dan luas tanah tersedia, sudut kemiringan, iklim, curah hujan, dana yang tersedia, sarana dan prasarana, waktu tanam, segi ekonomis, jangka waktu yang disediakan untuk penghijauan kembali).
Misalnya untuk memperbaiki hidrologi suatu kawasan karst yang sudah gundul, cukup dilakukan penghijauan dengan menanam aneka semak belukar maupun tanaman penutup tanah (ground cover vegetation) yang cepat tumbuh dan tahan kekeringan. Menanami kawasan karst dengan jenis-jenis pohon dengan laju penguap-peluhan tinggi, seperti pinus mercusii dan aneka jenis eucalypti yang tahan kekeringan seperti eucalyptus urophylla dan E.alba akan berdampak lebih mengeringkan tanah. Hal ini dikarenakan sistem perakarannya yang menginvasi percelahan-rekahan batu gamping yang terkarstifikasi, juga akan melebarkan celah-rekah itu melalui proses pelarutan kimia. Celah-rekah yang melebar itu kemudian memudahkan terjadinya erosi tanah ke dalam interior karst, hal mana bermanifestasi sebagai lapisan lumpur tebal pada dasar sungai-sungai bawah tanah (erosion en fissure).
Untuk meneliti silvikultur secara ilmiah di kawasan karst dan memonitori ekologi lingkungan harus diadakan pencatatan secara cermat dan teratur dari curah hujan, debit dan fluktuasi debit sungai di dalam gua, taksonomi, daerah penyebaran, frekuensi dan diversifikasi berbagai fauna dengan stres pada aviafauna dan serangga (siang dan malam), sebagai agens penyebar serbuk bunga, spora dan biji-bijian. Kelelawar, burung seriti dan walet penghuni gua juga perlu dimonitor karena erat kaitannya dengan kondisi vegetasi di luar gua dan jumlah serangga yang dimangsa oleh hewan itu.
Usaha memonitor kualitas tanah (fisik, kimiawi) perlu dikerjakan karena keadaannya tidak mungkin statis, dan akan mengalami perubahan kualitas dengan semakin banyaknya tanaman tumbuh. Penyelidikan sedimen di atas kawasan karst ini seyogyanya dilaksankan sambil menyelidiki kualitas dan kuantitas sedimen gua, untuk dapat memonitor perubahan vegetasi tingkat kesuburan di atas tanah.
Denudasi karst dan kecepatannya harus diukur. Makin banyak vegetasi dan sisa-sisa organik yang tertumpuk di sautu kawasan karst, makin cepat timbul denudasi oleh daya korosif air hujan yang tercemar dengan humus akibat kandungan CO2 galak di dalamnya. Untuk itu perlu diletakkan satu bongkahan batu gamping dengan ukuran tertentu, diletakkan di suatu tempat terbuka, dan diukur secara berkala (dua kali setahun) untuk diukur kembali dengan cermat (pakai mikrometer) berapa persen yang terlarut dalam setahun, dilengkapi data curah hujan pada periode tersebut. Data yang diperoleh ini penting untuk dibandingkan dengan data jumlah batu gamping yang larut dalam satuan waktu yang sama, curah hujan yang sama, yang didapatkan dengan mengukur kesadahan (kandungan Ca(HCO3)2) dari sungai di dalam gua pada periode itu. Semakin berhasil penghijauan, semakin besar denudasi karst yang akan terjadi.
Kesuburan tanah juga seyogyanya dimonitor dengan bantuan mikrofauna tanah seperti Collembola. Collembola secara internasional telah dipakai sebagai parameter kesuburan tanah. Jenis (spesies) sangat banyak. Spesifik sekali untuk satu lokasi. Untuk dokumentasi telah disusun Internasional Register of Collembola di luar negeri, antara lain dapat dilihat di laboratorium di bawah tanah MOULIS dari CNRS (Lembaga Ilmu Pengetahuan Perancis).
 Dari Indonesia baru dikenal sekitar 18 spesies Collembola bawah tanah (subsoil) dan belum satupun Collembola gua yang dikenal. Memonitor dinamika pembentukan tanah dan tingkat kesuburan di daerah karst hendaknya dilaksanakan secara simultan dengan menyelidiki spesies dan kuantitas (kepadatan per M2) Collembola di atas dan di dalam gua. Makin berhasil usaha penghijauan suatu kawasan karst, makin banyak jenis dan kepadatan populasi Collembola perunit luas.
Dari uraian di atas kiranya jelas, bahwa menentukan vegetasi mana yang cocok untuk suatu kawasan karst tertentu tidaklah mudah. Tergantung kepada tujuan penghijauannya. Sifat fisik an kimiawi tanah, iklim, curah hujan, ketinggian di atas permukaan laut, bahkan juga tergantung pada vulkanisme di kawasan tersebut. Juga tergantung ada tidaknya agens-agens penyebarnya. Atau fauna tanah yang membantu menyuburkan tanah di tempat itu. Karena itulah setiap usaha penghijauan suatu kawasan karst harus didahului oleh suatu studi menyeluruh secara multidisipliner, lintas sektoral, dimana sifat fisik karst itu sendiri dan pedologinya mendapatkan prioritas tertinggi di samping sifat hidrologinya yang dapat berbeda dari satu bagian kawasan karst ke bagian lain dari kawasan yang sama.
Sukses tidaknya tergantung pada pilihan tepat dari pada jenis-jenis tanamannya yang disesuaikan dengan tujuan penghijauan itu, perawatannya secara kontinyu dan ketekunan dari pihak pengelola yang tidakmengenal lelah. Bonus daripada berhasilnya penghijauan tersebut adalah pemandangan elok, menghijau yang mempunyai nilai kepariwisataan yang tinggi, di samping tentunya orohidrologi yang mantap. Tidak mengenal adanya banjir (terutama di dalam gua) sewaktu musim hujan dan sewaktu musim kemarau tetap tersedia air bersih yang dapat dimanfaatkan rakyat di kawasan karst itu.